Angle Berita

Saat Jokowi Dibuat Penasaran oleh Peternak Kambing




Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini menutup Jambore Peternakan 2017 di Lapangan Buperta, Cibubur, Jakarta Timur. Seperti biasanya di banyak kesempatan dialog, Jokowi meminta salah satu perwakilan untuk maju ke depan.

Secara khusus, mantan Gubernur DKI ini meminta peternak kambing atau domba yang kepemilikannya di atas 100 ekor. Sugiharto, peternak asal Purworejo, Jawa Tengah, langsung mengajukan diri ke atas panggung.

Saat dialog dengan Sugiharto, Jokowi memintanya berbagi pengalamannya beternak kambing, dari mulai jumlah operator kandangnya yang dibutuhkan, sampai untung yang didapatnya selama beternak.

"Tiga orang cukup ngerjain 200 kambing?" tanya Jokowi yang penasaran saat Sugiharto mengaku hanya dibantu 3 orang karyawan untuk mengurus 206 ekor kambing itu.

"Cukup Pak karena kita belajar teknologi pangan. Biaya membersihkan kandang, beri makan, membuat makan. Tiga (orang) cukup," kata Sugiharto menjawab polos.

Jokowi lantas heran membandingkan jumlah kambing Sugiharto yang mencapai 206 ekor dengan dibantu 3 orang. Sementara dirinya mengurus 11 ekor kambing harus dibantu 3 orang.

"Berarti di tempat saya kebanyakan itu. Kambingnya 11 saja ada 3 operatornya. Hitung-hitungannya rugi. Saya belajar seperti ini ini, memang harus belajar seperti ini. Berarti kalau dombanya 11 enggak usah pakai anak kandang (operator) berarti, sendiri berarti ya, berarti saya sendiri," ucap Jokowi menanggapi Sugiharto.

Tak puas dengan informasi soal pengelolaan kandang, Jokowi kemudian menguber pertanyaan untung yang didapat Sugiharto dengan kepemilikan 206 ekor kambing itu.

"Saya nyoba begini, kan kita punya 100 ekor kemudian itu hidup semua, itu sebenarnya dalam 2 tahun kambing itu bisa beranak 3 kali, cuma kan beranak sekali semua (satu ekor dalam sekali beranak). Kalau kambing sekali beranak (dalam setahun) dua-dua. Kalau 2 tahun berarti kita punya anak kambing 200," jelas Sugiharto.

Kemudian dengan harga jual anakan kambing sebesar Rp 1 juta per ekor, dirinya mengantongi Rp 200 juta dalam setahun untuk penjualan anakan, kemudian dipotong dengan biaya operasional maka dalam setahun bisa mendapat untung Rp 120 juta.

"Satu tahun itu anaknya 200 Pak. Jadi anaknya itu kalau kita jual rata rata Rp 1 juta berarti kita punya Rp 200 juta setahun, dipotong biaya operasional, gaji operator, biaya pakan, sisa paling Rp 120 jutaan Pak," terang Sugiharto.

Mengetahui untung yang besar dari ternak kambing itu, menurut Jokowi, kuncinya ada pada jumlah kambing yang dipelihara. Semakin banyak, akan semakin efisien pemeliharaannya.

"Sebentar, punya saya kok untungnya dikit ya? Kebanyakan operator kandang, jangan-jangan kebanyakan makan juga. Jadi dari 100 bisa beranak 200, kalau dijual dikurangi dengan biaya-biaya masih sisa Rp 120 juta. Oke nanti saya beli yang banyak sekalian 200 ekor. Apa ilmu apa lagi yang bisa diberikan? Itung-itungan apa yang bisa," cecar Jokowi lagi dengan rasa semakin penasaran.

"Kalau mau pelihara kambing yang banyak sekalian. Jangan saya hanya punya 5 jangan ya? Rumput ngarit atau bagaimana? Atau kambingnya dilepas?," tanya Jokowi lagi.

"Semakin banyak semakin menekan biaya operasionalnya. Semua kambing kita di kandang. Mengawasi ternak, perkembangan dan pengawasan dari penyakit. Jadi satu operator yang setiap hari itu menyiapkan pakan mengolah, jadi ada sebagian limbah pertanian seperti pohon jagung itu kita olah, kita jadikan sebagian lagi bisa dijual yang sifatnya tak banyak, (rumput hijau) hanya sekitar 10% dari total (pakan)," ungkap Sugiharto.

Selanjutnya, Jokowi juga ingin belajar bagaimana peternak menjaga kesehatan kambingnya. Dia kemudian mencecar apakah ada biaya yang dikeluarkan untuk fasilitas dokter hewan dari Pemda Purworejo.

"Kita didampingi psikologi-nya, kalau sakit biasanya disuntik," ucap Sugiharto.

"Sekali suntik berapa?" Tanya Jokowi.

"Kadang gratis Pak, hanya mengganti bensin saja," jawab Sugiharto yang mengaku hanya mengganti biaya bensin dokter hewan karena jarak kandang dan pusat kota yang cukup jauh.

"Saya dari rumah saya sekitar 20 km dari kota ke kandang-kandang, kita cuma kasih Rp 50.000," ujar Sugiharto. (idr/mkj)


Opini :
Dipemberitaan ini angle atau sudut pandang yang saya tangkap secara umum adalah presiden Jokowi menutup Jambore Peternakan 2017. Namun saya memiliki angle atau sudut pandang secara pribadi, yaitu saya melihat disini presiden Jokowi tidak hanya menghadiri Jambore Peternakan 2017, namun beliau terlihat sangat tertarik untuk memperdalam pengetahuannya tentang berternak kambing atau domba. Hal ini terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang ia gelontarkan kepada peternak kambing, dan terbukti dari ia ingin mengembangkan ternak kambing miliknya sendiri. Satu angle atau sudut pandang yang saya lihat lagi disinia adalah ketika seorang presiden atau pemimpin negara, masih mau untuk berternak kambing dan domba.
Dengan sudut pandang pribadi saya ini, menurut saya harus ada beberapa kata atau kalimat bahkan judul yang seharusnya diubah dari pemberitaan diatas, yaitu pada paragraf ke 7, 8, 13, 14 :
  
Presiden Jokowi Belajar Berternak Kambing Saat Penutupan JAMBORE Peternakan 2017


Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini menutup Jambore Peternakan 2017 di Lapangan Buperta, Cibubur, Jakarta Timur. Seperti biasanya di banyak kesempatan dialog, Jokowi meminta salah satu perwakilan untuk maju ke depan.

Secara khusus, mantan Gubernur DKI ini meminta peternak kambing atau domba yang kepemilikannya di atas 100 ekor. Sugiharto, peternak asal Purworejo, Jawa Tengah, langsung mengajukan diri ke atas panggung.

Saat dialog dengan Sugiharto, Jokowi memintanya berbagi pengalamannya beternak kambing, dari mulai jumlah operator kandangnya yang dibutuhkan, sampai untung yang didapatnya selama beternak.


"Tiga orang cukup ngerjain 200 kambing?" tanya Jokowi yang penasaran saat Sugiharto mengaku hanya dibantu 3 orang karyawan untuk mengurus 206 ekor kambing itu.

"Cukup Pak karena kita belajar teknologi pangan. Biaya membersihkan kandang, beri makan, membuat makan. Tiga (orang) cukup," kata Sugiharto menjawab polos.

Jokowi lantas heran membandingkan jumlah kambing Sugiharto yang mencapai 206 ekor dengan dibantu 3 orang. Sementara dirinya mengurus 11 ekor kambing harus dibantu 3 orang.

"Berarti di tempat saya kebanyakan itu. Kambingnya 11 saja ada 3 operatornya. Hitung-hitungannya rugi. Saya belajar seperti ini ini, memang harus belajar seperti ini. Berarti kalau dombanya 11 enggak usah pakai anak kandang (operator) berarti, sendiri berarti ya, berarti saya sendiri," ucap Jokowi yang terlihat heran namun antusias untuk mendalami pengetahuan soal beternaknya.

Tak puas dengan informasi soal pengelolaan kandang, yang ada Jokowi semakin ingin mendalami pengetahuan soal beternak, kali ini ia menanyakan untung yang didapat Sugiharto dengan kepemilikan 206 ekor kambing itu.

"Saya nyoba begini, kan kita punya 100 ekor kemudian itu hidup semua, itu sebenarnya dalam 2 tahun kambing itu bisa beranak 3 kali, cuma kan beranak sekali semua (satu ekor dalam sekali beranak). Kalau kambing sekali beranak (dalam setahun) dua-dua. Kalau 2 tahun berarti kita punya anak kambing 200," jelas Sugiharto.

Kemudian dengan harga jual anakan kambing sebesar Rp 1 juta per ekor, dirinya mengantongi Rp 200 juta dalam setahun untuk penjualan anakan, kemudian dipotong dengan biaya operasional maka dalam setahun bisa mendapat untung Rp 120 juta.

"Satu tahun itu anaknya 200 Pak. Jadi anaknya itu kalau kita jual rata rata Rp 1 juta berarti kita punya Rp 200 juta setahun, dipotong biaya operasional, gaji operator, biaya pakan, sisa paling Rp 120 jutaan Pak," terang Sugiharto.

Mengetahui untung yang besar dari ternak kambing itu, menurut Jokowi, kuncinya ada pada jumlah kambing yang dipelihara. Semakin banyak, akan semakin efisien pemeliharaannya.

"Sebentar, punya saya kok untungnya dikit ya? Kebanyakan operator kandang, jangan-jangan kebanyakan makan juga. Jadi dari 100 bisa beranak 200, kalau dijual dikurangi dengan biaya-biaya masih sisa Rp 120 juta. Oke nanti saya beli yang banyak sekalian 200 ekor. Apa ilmu apa lagi yang bisa diberikan? Itung-itungan apa yang bisa," ujar Jokowi yang terlihat ingin menambahkan jumlah kambing ternaknya.

"Kalau mau pelihara kambing yang banyak sekalian. Jangan saya hanya punya 5 jangan ya? Rumput ngarit atau bagaimana? Atau kambingnya dilepas?," tanya Jokowi lagi yang terlihat semakin penasaran.

"Semakin banyak semakin menekan biaya operasionalnya. Semua kambing kita di kandang. Mengawasi ternak, perkembangan dan pengawasan dari penyakit. Jadi satu operator yang setiap hari itu menyiapkan pakan mengolah, jadi ada sebagian limbah pertanian seperti pohon jagung itu kita olah, kita jadikan sebagian lagi bisa dijual yang sifatnya tak banyak, (rumput hijau) hanya sekitar 10% dari total (pakan)," ungkap Sugiharto.

Selanjutnya, Jokowi juga ingin belajar bagaimana peternak menjaga kesehatan kambingnya. Dia kemudian mencecar apakah ada biaya yang dikeluarkan untuk fasilitas dokter hewan dari Pemda Purworejo.

"Kita didampingi psikologi-nya, kalau sakit biasanya disuntik," ucap Sugiharto.

"Sekali suntik berapa?" Tanya Jokowi.

"Kadang gratis Pak, hanya mengganti bensin saja," jawab Sugiharto yang mengaku hanya mengganti biaya bensin dokter hewan karena jarak kandang dan pusat kota yang cukup jauh.

"Saya dari rumah saya sekitar 20 km dari kota ke kandang-kandang, kita cuma kasih Rp 50.000," ujar Sugiharto. (idr/mkj)



Komentar